Antara Soekarno, PKI, dan Malaysia

Sudah lama tragedi berdarah yang disebut peristiwa G30S/PKI itu

berlangsung. Namun, apa yang terjadi pada malam naas tersebut masih

merupakan misteri. Salah satu pertanyaan yang sering diajukan adalah

apa hubungan Soekarno dengan PKI? Benarkah Soekarno mau menyerahkan

Indonesia kepada PKI? Jawabannya tidak! Soekarno memerlukan PKI karena

saat itu ia ingin mengganyang Malaysia. Namun, Soekarno sendiri tak

mau membiarkan PKI naik ke panggung kekuasaan.

 

Seberapa jauh keterlibatan Soekarno dalam tragedi tersebut? Apa saja

yang termuat dalam berbagai dokumen Kementerian Luar Negeri Amerika

Serikat dan CIA yang baru saja dideklasifikasikan?

 

Satu hal yang kurang diperhatikan para sejarawan yang meneliti

kedekatan Soekarno dan PKI adalah hubungan antara konfrontasi Malaysia

dan kedekatan Soekarno dengan PKI.

 

Demonstrasi anti-Indonesia

 

Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, di mana para

demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa

lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tunku Abdul Rahman-Perdana

Menteri Malaysia saat itu-dan memaksanya untuk menginjak Garuda,

amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak.

 

Howard Jones, Duta Besar AS saat itu, melaporkan kepada Washington

bahwa ia bertemu Soekarno. “Saat itu Soekarno marah besar…. Tidak

ada lagi pertukaran salam. Tak ada basa-basi… . Menjawab pertanyaan

saya, apakah situasi sudah terkendali, Soekarno meledak dan mengutuk

tindakan Tunku. “Sejak kapan seorang kepala negara pernah menginjak-

injak lambang negara lain?” Soekarno juga menyebutkan fotonya yang

dirobek dan diinjak-injak. “Rakyat Indonesia sudah murka! Ini Asia,

tahun 1963. Saya juga amat beremosi! (telegram dari Kedubes AS di

Indonesia kepada Departemen Luar Negeri AS, 19 September 1963)

 

Howard Jones menyatakan simpatinya, tetapi ia menekankan bahwa

Indonesia tak bisa mengandalkan bantuan AS jika Soekarno ingin

melakukan balas dendam. Sementara itu, TNI Angkatan Darat terpecah:

Jenderal Ahmad Yani tidak bersedia mengerahkan pasukan untuk menyerbu

Malaysia karena tidak merasa tentara Indonesia cukup siap menghadapi

Malaysia yang dibelakangi Inggris. Namun, Jenderal AH Nasution setuju

untuk mengganyang Malaysia karena ia khawatir isu Malaysia akan

ditunggangi PKI untuk memperkuat posisinya di percaturan politik di

Indonesia.

 

Saat itu PKI merupakan pendukung terbesar gerakan mengganyang

Malaysia, yang dianggap antek neokolonialisme dan imperialisme. Namun,

pertimbangan PKI bukan didasarkan sekadar idealisme. PKI berusaha

membangkitkan semangat nasionalisme Indonesia dan menempatkan PKI

sebagai gerakan nasionalis yang lebih nasionalis daripada tentara

untuk memperkuat posisinya dalam percaturan politik di Indonesia, yang

saat itu berpusat pada Soekarno, tentara, dan PKI.

 

Melihat dukungan tentara yang setengah-setengah, Soekarno kecewa,

padahal ia ingin sekali mengganyang Malaysia. Sejak saat itulah,

hubungan Soekarno dan PKI bertambah kuat, apalagi setelah tentara

sendiri mengalami kegagalan dalam operasi gerilya di Malaysia.

Penyebab kegagalan itu bukan karena tentara Indonesia tidak

berkualitas, tetapi para pemimpin TNI Angkatan Darat di Jakarta tidak

tertarik untuk mengeskalasi konfrontasi.

 

Kita harus memerhatikan secara saksama jalur pemikiran para pemimpin

Angkatan Darat saat itu. Mereka menghadapi buah simalakama. Mereka

tidak mau mengeskalasi konflik karena tidak tak yakin akan bisa menang

menghadapi Inggris. Di sisi lain, jika mereka tak melakukan apa-apa,

Soekarno akan mengamuk. Tak peduli keputusan apa yang diambil, PKI

akan tetap untung.

 

Akhirnya, para pemimpin Angkatan Darat mengambil posisi unik. Mereka

menyetujui perintah Soekarno untuk mengirimkan tentara ke Kalimantan,

tetapi tak akan benar-benar serius dalam konfrontasi ini agar situasi

tak bertambah buruh menjadi perang terbuka Indonesia melawan Malaysia-

Inggris (dan Australia-Selandia Baru). Tak heran, Brigadir Jenderal

Suparjo, komandan pasukan di Kalimantan Barat, mengeluh, konfrontasi

tak dilakukan sepenuh hati dan ia merasa operasinya disabotase dari

belakang. (JAC Mackie, 1971, hal 214)

 

Kekhawatiran Soekarno

 

Namun, pada saat yang sama, gagalnya konfrontasi juga berakibat buruk

bagi para penentang PKI, seperti Partai Murba. Posisi PKI menguat,

sampai 25 November 1964, kepada Washington, Howard Jones melaporkan,

Adam Malik, Chaerul Saleh, Jenderal Nasution, Jenderal Sukendro, dan

banyak lagi yang lain meminta Pemerintah AS membantu menyelamatkan

kaum moderat di Indonesia dari posisi mereka yang amat sulit (akibat

menguatnya posisi PKI)…. Sebagian tentara Indonesia merasa malu karena

gagalnya usaha mengganyang Malaysia. (telegram dari Kedubes AS di

Indonesia kepada Departemen Luar Negeri AS, 25 November 1964)

 

Sementara itu, secara internasional pun posisi PKI bertambah kuat

dengan semakin dekatnya hubungan Indonesia dengan China-Beijing.

Kedekatan ini disebabkan kesuksesan China dalam menguji bom nuklir dan

dukungan Beijing kepada konfrontasi Malaysia. Di sisi lain, Soekarno

merasa khawatir dengan PKI yang dianggap terlalu kuat. Namun,

masalahnya, ia amat memerlukan PKI untuk mengganyang Malaysia, apalagi

karena Indonesia sendiri sudah terkucil di lingkungan internasional

akibat konfrontasi tersebut.

 

Kekhawatiran Soekarno terlihat dalam dokumen CIA yang baru

dideklasifikasikan beberapa tahun lalu, bertanggalkan 13 Januari 1965.

Dokumen itu menyebutkan, dalam sebuah percakapan santai dengan para

pemimpin politik sayap kanan, Soekarno menyatakan tak bisa menoleransi

gerakan anti-PKI karena ia butuh dukungan PKI untuk menghadapi

Malaysia. Ia menyatakan, namanya sudah “jatuh” di dunia internasional

dan Indonesia dianggap negara gila karena keputusannya membawa

Indonesia keluar dari PBB. Namun, Soekarno menekankan, suatu waktu,

“giliran PKI akan tiba” dan saat itu gerakan menentang PKI sama dengan

gerakan untuk menentang Soekarno.

 

Soekarno berkata, “Kamu bisa menjadi

teman atau musuh saya. Itu terserah kamu.” Soekarno mengakhiri

percakapan itu dengan berkata, “Untukku, Malaysia itu musuh nomor

satu. Suatu saat saya akan membereskan PKI, tetapi tidak sekarang.”

 

Dari sini terlihat, kedekatan Soekarno dengan PKI diakibatkan gagalnya

TNI Angkatan Darat memenuhi keinginan Soekarno mengganyang Malayia.

Soekarno di sini terlihat bukan sebagai antek atau pendukung PKI,

tetapi ia memang berusaha menggunakan PKI untuk membantu kebijakannya

dalam mengganyang Malaysia. Kegagalan para pemimpin TNI Angkatan Darat

juga membuat tentara-tentara, seperti Brigadir Jenderal Suparjo kesal

kepada para pimpinan Angkatan Darat. Mereka akhirnya merasa perlu

melakukan operasi untuk mengadili para pemimpin TNI Angkatan Darat

yang dianggap berkhianat kepada misi yang dibebankan Soekarno. Untuk

melakukan hal ini, mereka memutuskan untuk berhubungan dengan orang-

orang dari PKI karena dianggap memiliki misi yang sama, yakni

mengganyang Malaysia. Hal ini akhirnya menyebabkan peristiwa yang

sampai sekarang disebut sebagai G30S/PKI.

 

 

 

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: