Hijau vs Merah Putih

Prabowo dan Wiranto ibarat kutub magnet yg berlawanan. Mereka bersaing di dunia militer untuk meraih jabatan tertinggi. Perseteruan mereka mencapai puncak pada Mei 1998. Perang Panglima ini ditulis dengan tujuan menguak keterlibatan Prabowo dan Wiranto dalam penculikan aktivis dan kerusuhan Mei 1998.

Wiranto, Prabowo, dan Habibie disebut-sebut sebagai kunci peristiwa Mei 1998. Jauh sebelum Habibie meluncurkan bukunya, Detik-detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi 2006), Wiranto telah lebih dulu menerbitkan buku Bersaksi di Tengah Badai. Dalam buku itu Wiranto membantah lambannya militer dalam mengamankan situasi pada peristiwa Mei 1998. Ia mengatakan kepergiannya ke Malang pada saat itu untuk menghadiri acara militer atas permintaan Prabowo Subianto. Kivlan Zen yang merupakan kelompok Prabowo pun meluncurkan buku Konflik dan Integrasi TNI AD. Kivlan mengatakan Wiranto saat menjadi Panglima ABRI bertanggung jawab atas sejumlah peristiwa di tahun 1998, mulai dari penculikan aktivis, peristiwa Mei, dan pengerahan Pengamanan Swakarsa (Pam Swakarsa).

Di luar itu, Wiranto meninggalkan bau harum di tubuh militer, di antaranya keputusan untuk mereformasi TNI. Reformasi tersebut berupa keluarnya TNI dari politik praktis, penghapusan dwifungsi, dan sikap netral TNI dalam Pemilu 1999. Reformasi internal TNI telah mengembalikan militer ke fungsi pokoknya sebagai alat pertahanan negara. Wiranto juga tercatat sebagai peletak dasar tonggak kembalinya Polri ke masyarakat sipil sebagai penjaga keamanan.

Prabowo nyatanya dituding sebagai dalang dari serangkaian aksi penculikan para aktivis, penembakan mahasiswa Trisakti, penyulut kekacauan di tanah air sebelum dan sesudah Mei 1998. Disebut-sebut pernikahannya dengan Siti Hedijati Harijadi (Titiek), anak keempat mantan presiden Soeharto, menjadi pemicu kenaikan pangkat Prabowo yang terbilang mulus. Kariernya pun terus meroket hingga menduduki jabatan Komandan Kopassus dalam usia relatif muda, 44 tahun. Setahun kemudian ia naik pangkat menjadi Komandan Jenderal Kopassus. Di ujung tahun 1997, tersiar kabar Prabowo akan dipromosikan sebagai Panglima Kostrad. Namun, dalam perjalanannya menuju jabatan Pangkostrad, Prabowo terganjal sistem birokrasi di mana dia harus melindungi dua pihak, yaitu negara dan keluarga Cendana. Hal itu disebabkan Sidang Umum MPR 1998 kian dekat. Dikabarkan Soeharto memerintahkan Prabowo untuk menertibkan gerakan-gerakan oposisi terhadapnya. Tak terhindarkan, 9 orang aktivis diculik oleh segerombolan orang yang kemudian disebut Tim Mawar. Saat itu kelompok yang diincar adalah aktivis radikal Partai Rakyat Demokratik. Menjelang SU MPR 1998 ada sekitar 28 orang yang harus “diamankan” dan diselidiki. Namun tidak ada yang tahu siapa yang memberi perintah tersebut. Bahkan bila ditanya soal itu, Prabowo memilih bungkam dengan alasan menjaga kehormatan institusi ABRI.

Menurut pengakuan Prabowo, enam aktivis ada dalam daftar pencarian orang (DPO) yang diberikan polisi. Sedangkan tiga nama lain dianggap “kecelakaan”. Sempat terdengar kabar bukan hanya Prabowo yang menerima daftar tersebut. KSAD Jenderal Wiranto dan Pangab saat itu, Jenderal. Feisal Tanjung, juga menerima daftar serupa. Para aktivis tersebut menjadi sasaran Tim Mawar karena mendapat bocoran tentang rencana operasi bawah tanah PRD untuk membentuk dewan nasional. Hingga kini 14 orang dinyatakan hilang akibat penculikan tersebut.

Alasan pembentukan Tim Mawar terlihat ganjil pada saat kasus ini disidangkan pada tahun 1999, yaitu dikarenakan hati nurani. Padahal, dalam keprajuritan, seharusnya segala sesuatu berdasarkan perintah atasan.

Hasil temuan Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang diumumkan Menhankam/Pangab ABRI Jenderal Wiranto menyatakan penculikan tersebut dilakukan atas perintah dan sepengetahuan para pemimpin Kopassus saat itu, yaitu mantan Danjen Kopassus Letjen (Purn) Prabowo Subianto, Mayjen Muchdi PR, dan Komandan Grup IV Kopassus Kol Chairawan. Anehnya dakwaan di pengadilan berbeda dari temuan DKP. Tim Gabungan Pencari Fakta menyebutkan, jika dalam persidangan terbukti Prabowo terlibat, dia akan diajukan ke mahkamah militer.

Menurut salah seorang korban penculikan, Soeharto juga perlu diperiksa. Sebab, ada dugaan dialah yang memberikan daftar nama aktivis yang menjadi target penculikan dan penghilangan paksa. Dalam pemeriksaan DKP, Prabowo mengaku salah menganalisis perintah bawah kendali operasi (BKO). BKO lazim dilakukan bila suatu kesatuan membutuhkan bantuan penguatan dari satuan lain untuk melaksanakan tugas tertentu. Pasukan bantuan ini berada di bawah kendali operasi serta tanggung jawab komandan kesatuan yang meminta bantuan. Namun, hingga kini tidak jelas siapa pemberi BKO tersebut.

Prabowo sendiri merasa dikhianati keluarga Cendana. Sedangkan keluarga Cendana beranggapan Prabowo yang mengkhianati mereka. Perasaan saling dikhianati itu timbul menjelang lengsernya Soeharto.

Sinar Prabowo mulai meredup ketika Presiden Habibie mencopot dia dari jabatan Pangkostrad. Habibie menuturkan dalam bukunya, pada hari kedua memerintah, ia mendengar adanya gerakan pasukan Kostrad di luar koordinasi Panglima ABRI Wiranto. Akhirnya ia meminta Wiranto segera mencopot Prabowo dari jabatannya. Sinar Prabowo seketika padam ketika dia diberhentikan dari dinas kemiliteran. Pemberhentian ini merupakan sanksi atas keterlibatannya dengan Tim Mawar. Meski dia tidak terang-terangan dituduh sebagai penanggung jawab atas tindakan bawah tanah itu.

Kini baik Prabowo maupun Wiranto sudah tidak lagi menjabat di militer. Prabowo sibuk berbisnis dan menjadi Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), sedangkan Wiranto sibuk menggalang dukungan untuk menuju kursi presiden di Pemilu 2009. Wiranto mendirikan Partai Hati Nurani Rakyat sebagai kendaraan menuju kursi presiden setelah gagal pada Pemilu 2004. Prabowo belum terlihat gelagat mencalonkan diri sebagai presiden.

Seperti halnya buku-buku teori konspirasi, sumber penulisan buku ini tidak jelas. Banyak sumber hanya berdasarkan rumor atau isu. Meskipun demikian, penulis berusaha mengimbanginya dengan bahan bacaan yang cukup banyak. Paling tidak hal itu bisa dilihat pada daftar pustaka yang cukup panjang. Penulis bermaksud mengemas tulisan dengan serius dan santai. Namun rupanya bagian yang santai kelewat santai. Ada paragraf-paragraf yang sedikit dipaksakan. Kalimat-kalimat yang dipakai banyak yang tidak efektif dan bertele-tele. Pembaca bisa saja keburu bosan.

Buku ini sepertinya tidak berusaha menjadi buku sejarah. Bahkan, penulis menyatakan metode dan gaya penulisan lebih merupakan sebuah catatan ketimbang urutan sejarah. Kehadiran buku ini bisa dibilang hanya pelengkap dari buku-buku sejenis yang terbit sebelumnya.

About these ads
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: